Rangkuman #kultwit @ernestprakasa: Berkarir di Stand-Up Comedy (Mainstream Vs. Non-Mainstream)

Berikut rekap twit berseri gw soal berkarir di stand-up comedy, semoga bermanfaat:

————————————————————————————————-

Makin hari stand-up comedy scene dlm negeri makin terbentuk, & bbrp udh bisa mencari nafkah dgn menjadi comic.

Cth full-time comic slain gw itu @pandji, @setiawanyogy, @mosidik, @crazydhika, dll. Makin hari makin banyak.

Nah klo lo pgn berkarir sbg comic, mnurut gw ada hal mndasar yg harus dipahami: Pengen jadi comic yg kyk gimana?

Knp ini hrs dipahami dari awal? Krn kalo salah pilih jalur, ribet lagi nanti ngerubahnya. Buang waktu & tenaga.

Simpelnya gini, spt halnya musik, comic jg hrs udah tau, mau jd comic mainstream atau non-mainstream? Ini BEDA BANGET.

Yg gw maksud dgn istilah “mainstream” adalah comic yg materinya aman untuk masuk ke TV & event2 corporate.

Jd minim materi blue, topik yg diangkat juga “pop” & mudah dimengerti khalayak umum. Cth: @muhadkly & @mosidik.

Comic non-mainstream ya sebaliknya. Comic yg materiya segmented, blm tentu compatible dgn TV / event2 corporate.

Cth comic non-mainstream? Paling gampang ya @ponakannyaom & @Regzindahood. Yg 1 kasar edan, yg 1 full english.

Kira2 gitu beda antara mainstream / non-mainstream. Nah skrg gw kasi plus minusnya. Kta mulai dr comic mainstream.

Plus 1: Comic mainstream bisa dpt duit gede di corporat gigs: company gathering, seminar, talkshow, dll.
Plus 2: Comic mainstream jg bisa lebih cpt ngetop krn ter-expose oleh media dgn audience luas spt TV & radio.
Plus 3: Comic mainstream lebih mungkin u/ ekspansi karir ke bidang lain kyk film, iklan, dll. Intinya showbiz.

Oke itu menurut gw 3 poin plus kalo lo mau jadi comic di jalur mainstream. Sekarang poin minus nya ya. 

Minus 1a: Lo akan lebih sulit u/ mendapat respek dr sesama comic, trutama mrk yg non-mainstream. I’ll
explain why.
Minus 1b: Comic itu seniman, & akan di-drive oleh kekaguman akan karya seni org lain. Dan seni yg “pop” akan trkesan “ringan”.
Minus 1c: Makanya comic – spt halnya musisi – yg non-mainstream banyak yg mandang mainstream itu “ga berisi”.
Minus 1d: Tp ini ga selalu terjadi, & ga perlu dirisaukan. We can NEVER please everyone. Konsekuensi pilihan.
Minus 2: Sbg comic mainstream, kdg gregetan pgn ngomong seenaknya & nampilin idealisme pribadi, tp sulit nyari ksmptnnya.

Ok skrg gw akan coba bahas ttg plus minusnya klo lo pgn jd comic di jalur non-mainstream.

Plus 1: Materi trbaik dtg dr kejujuran, & enak bgt klo bisa jujur tnp disensor. Bisa ngomong apa aja, asal brtnggungjwb.
Plus 2: Krn segmented, basis massa lo akan lebih fanatik & setia. Mrk akan lebih sulit berganti idola.
Plus 3: Lo akan bisa menjaga standar berkesenian sesuai idealisme lo sendiri. Gada intervensi pasar & media.

Itu nikmatnya jadi comic non-mainstream. Tapi tentu, ada sisi minusnya juga. Menurut gw ada 2 sih yg krusial.

Minus 1: Lo gakan bisa cari duit segampang comic mainstream, krn materi lo ga bisa buat sembarang event.
Minus 2a: Krn ga dibantu media massa, lo jg akan butuh wkt lebih lama u/ ngebangun basis bassa yg solid.
Minus 2b: Lo hrs giat bergerilya, pelan2 nemuin org2 yg mau mluangkan wkt & duit u/ mnikmati karya lo.
Minus 2c: Tp skali lagi, klo udah click, org2 itu pasti akan lebih loyal dibanding fan base u/ comic2 mainstream.

Itu dia plus/minus untuk comic mainstream & non-mainstream. Tentunya itu ga mutlak, alias ada jg comic hibrida.

Comic hibrida bisa mnjalankan kedua sisi tadi dgn baik. Masuk TV hayuk, tapi bikin gig yg idealis juga jalan.

Cth comic hibrida yg keren mnurut gw @notaslimboy & @pandji. Sering di TV, tp klo lagi off-air tetep cadas.

Skali lg, ini cm sharing berd.pngalaman & pngamatan. Istilah2 jg gw bikin sndiri, yg pnting gampang dimengerti.

So, gudlak. Ada bnyk comic keren dlm negeri. Pilih idola lo, trus blg: “Suatu hari, gw bakal lebih hebat dari lo!”.

————————————————————————————————-

[@ernestprakasa]
http://www.ernestprakasa.com

#ComicTips: Skill Vs. Feel (By: @GePamungkas)

SUC semakin berkembang, dan banyak komika bermunculan baik di dalam maupun luar pulau Jawa. Premis, setup, serta punchline kini tidak hanya lucu—namun mengandung keunikan dan ciri khas bagi komika itu sendiri. Setlist yang rapih, dan teoritis kini menjadi tujuan utama para komika pemula, yang bahkan jam terbang openmic-nya dapat dihitung dengan jari. Biar gw memulai dengan kata-kata berikut; “Fuck skill, just feel!”

Setelah bepergian dari kota ke kota, dan bertemu para kawan komika, gw menemukan satu hal yang menarik. Beberapa comic cenderung mengutamakan dalam penggunaan analogi, rule of three, act out, call back, serta tehnik-tehnik lain dalam setlist-nya. Namun kenyataannya, materinya gak lucu. Alhasil, tentunya menimbulkan tawa…. comic nya sendiri yang ketawa, penontonnya sih kecewa!
Berikut adalah pertanyaan para komika yang sering dilontarkan ke gw:

“Gimana sih caranya pake Act-out?”
“Bang, gw ada rule of three nih, menurut lo gimana?”
“Gimana sih cara pake analogi, dan/atau call back?”
“Bang, boleh minta folbek?”
“Kamu kok eksotis sih?”
“Keluarin dimana nih?”
(Abaikan pertanyaan ke 4, 5 dan 6)

Mungkin ada beberapa komika yang mengira bahwa dengan adanya “jurus” makanya materinya bakalan lucu. Ini adalah sudut pandang yang keliru. Karena menurut gw, “jurus” (seperti rule of three, call back, dsb) itu hanya membuat materi lo menjadi lebih “berwarna”—lucu sih belom tentu, tapi yang pasti berwarna.
Yang penting, menurut gw, adalah lo ngerti dulu di materi yang mau lo bawain ada punchline nya. Jangan menggunakan “jurus” untuk menciptakan punchline, tapi gunakanlah “jurus” untuk mempercantik punchline lo. Sekeren-kerennya “jurus” lo, tapi materinya gak lucu, ya berarti emang cuman keren. Lucu sih engga, tapi keren i….ya menurut lo kalo comic gak lucu, keren gak?! Nah tapi walaupun lo ga ada “jurus”, tapi materi lo emang bener-bener lucu, ya pastinya akan mengundang ketawa dari penonton. Setidaknya juga akan mengundang beberapa pertanyaan dari penonton, kalo beruntung ya pertanyaan 5 dan 6 (Oke, ini udah mulai menyimpang).

But then again, who cares about skills? Penonton akan tetap ketawa kalo materi lo bagus kok, tanpa memperdulikan apakah setlist lo penuh “jurus” atau tidak. “Jurus” emang pengaruh, tapi bukan urutan nomer satu dalam setlist lo. Jangan memaksa premis lo untuk matang dengan menggunakan “jurus”, ketika lo sendiri juga sadar bahwa sebenarnya lo juga belom menemukan sesuatu yang menggelitik dalam premis lo.

I believe that the reason we’re doing stand up comedy, is not to look cooler, but we do it because we love it. So fellows, stop trying so hard to make your setlist cooler, then ends up regretting it. Menurut gw, stand up comedy adalah sebuah kesenian—dan kesenian seharusnya dimainkan dengan hati. Emang sih awalnya kita belajar dengan teori, tapi masa iya kita pake teori terus dan melakukan hal yang kita cintai tanpa hati?
I’m not saying that you shouldn’t read books, that teaches you how to tell jokes..
I’m not saying that you shouldn’t use techniques in your setlists..
I’m just saying, to fuck skill.. Just feel :)

[@GePamungkas for @ComicKomatKamit]

#ProfilAnggota : @cinta_fikri

Nama        : Fikri Aliffandri
Panggilan : Fikri
Umur        : 15
Twitter      : @cinta_fikri
Pekerjaan  : -

Pengalaman Show :

- Kumpul Bareng Arek Batu Stand Up Comedy
- Opener "Butet & Jadog - HUT Radar Malang"

Kutipan     :
"Mbak tau ALAY mbak ? hanya kata ALAYfyu yg dpt kuucapkan kepadamu"

#ComicTips: Berlatih!

Siap dalam arti bukan cuma udah ditulis, tapi juga udah dilatih. Masalah penonton ketawa atau engga, itu nomor dua. Yang penting, saat naik ke panggung, kita udah harus pede dan hafal mati sama materi yang mau dibawain.

Lalu pertanyaanya: “Gimana cara latian yang bener?
Sebelum kesana, kita bahas dulu cara latian yang salah. Yang salah adalah latian dengan cara menghafal. Kata Greg Dean, “Memorizing is the worst type of rehearsal”. Mungkin lo mikir, “Lah, jadi gimana dong?”. Jawabannya, jangan latih dengan hafalan, tapi lakukan. Kalo minjem istilah yang sering dipake Pandji:

“Bit itu harus dibadanin”.

Saat latian, jangan cuma tiduran di kasur atau duduk di teras sambil ngingetin kata-kata yang melintas di dalam kepala. “Ah tapi gue selama ini baik-baik aja koq dengan cara itu?” Wah, kalo lo pake sistem ngehafal aja bisa bagus, harusnya kalo pake sistem all-out ini, lo akan semakin gokil.

Alokasiin waktu yang enak, pas lo lagi santai dan pikiran bisa fokus. Cari tempat yang nyaman, trus keluarin suara dan act-out (bila ada) secara penuh, seolah-olah kita lagi ada di panggung. Dengan cara ini, otak dan badan kita akan menyerap dengan jauh lebih baik. Emang sih, kadang-kadang susah cari tempat yang private dimana kita bisa latian tanpa ngeganggu atau diganggu orang. Tapi bisa lah dicari-cari. Kamar sendiri? Kost temen? Dimana pun yang halal dan ga makan biaya gede :)

Sebagian orang ngerasa proses ini akan lebih maksimal kalo pake cermin. Jadi sambil ngaca, sambil latian. Bener begitu? Bisa ya, bisa engga. Kalo menurut gue, cermin atau tanpa cermin itu tergantung selera masing-masing aja. Gue pribadi termasuk yang engga biasa latian pake cermin. Kalo ada cermin, gue malah keganggu. Tapi ada yang ngerasa lebih pede kalo udah ngeliat dirinya sendiri ngebawain bit-bit di depan cermin, terutama yang butuh banyak act-out. Ga ada yang salah, ga ada yang bener, yang penting mana yang paling nyaman aja.

Dengan latian yang bener, bit akan lebih nempel. Ngelotok, ga usah diinget-inget lagi. Dengan demikian, energi yang ada bisa kita pake buat fokus ke delivery, riffing, dan lain-lain. Saat naik panggung, jangan lagi buang-buang tenaga untuk nginget materi.

Secara teori, latian yang ideal sih begitu. Tapi ada satu musuhnya yang bikin ini seringkali ga kejadian:

MALES.

Ini memang musuh yang berbahaya. Tapi menurut gue sih gini. Kalo selama ini cara lo latian adalah dengan ngehafal, cobain deh teknik ini. Gue yakin bakal langsung kerasa banget bedanya. Dan kalo udah ngerasain manfaatnya, semoga malesnya pun lebih bisa diperangi. Good luck!

[@ernestprakasa]
http://www.ernestprakasa.com

#ProfilAnggota : @baimwoy

Nama        : Ibrahim A. K.
Panggilan : Baim
Umur        : 17
Twitter      : @baimwoy
Pekerjaan  : -

Pengalaman Show :

- Kumpul Bareng Arek Batu Stand Up Comedy
- Opener "Butet & Jadog - HUT Radar Malang

Kutipan     :
"I'm black, but I'm elegant"

#ProfilAnggota : @bangmedz

Nama       : M Firdaus R
Panggilan : Memed
Umur        : 17
Twitter      : @bangmedz
Pekerjaan  : Pengejar Hatimu

Pengalaman Show :

- Kumpul Bareng Arek Batu Stand Up Comedy

Kutipan     :
"I smile and act like nothing is wrong, it's called putting shit aside."

#ProfilAnggota : @twitkeeplay



Nama       : Alfian Prasetyo
Panggilan : Kipli
Umur        : 17
Twitter      : @twitkeeplay
Pekerjaan  : Tukang Software

Pengalaman Show :

-

Kutipan     :
"Gundul itu cabul."

#ProfilAnggota : @somastha

Nama       : Somastha July Nasawat
Panggilan : Mastha
Umur        : 17
Twitter      : @somastha
Pekerjaan  : Bonang'ers

Pengalaman Show :
- Kumpul Bareng Arek Batu Stand Up Comedy (2013)

Kutipan     :
"Saya punya rencana, tapi Tuhan punya kehendak."

Rangkuman #kultwit @radityadika: Persona

Berikut adalah rangkuman #kultwit @radityadika mengenai salah satu hal paling rumit dalam stand-up comedy: Persona.
————————————————————————————————-
Persona secara harafiah berarti “social mask”, topeng sosial. Dipakai jg sbg istilah untuk ‘karakter’ dlm pertunjukan teater. #persona

Persona, dalam konteks standup comedy mengacu pada aura, karakter panggung seorang comic. Topeng yg dia pakai di atas panggung. #persona

Jadi, persona seorang comic adalah topeng apa yang dia pakai di atas panggung. Apakah dia org yg sinis? Pemarah? Heboh? #persona

Persona seorang comic tidak serta-merta merupakan kepribadian asli dia. Bisa jadi karakter yg dia ingin mainkan. #persona

Persona berkaitan erat, dgn delivery materi seorang comic, tapi sebenarnya tidak terbatas pada itu saja. #persona

Persona didapatkan dari gesture, ekspresi muka, gaya berpakaian, sampai emosi yg dibawakan di atas panggung. #persona

Comic yg baik personanya kuat, sehingga berbeda dari comic lainnya. You don’t have to be better, you just have to be different. #persona

Contoh2 comic keren dgn persona keren. Persona oracle (pemberi pencerahan) pada George Carlin. Dia seperti berceramah di panggung. #persona

…atau bisa jadi pemarah, sinis, dan penggerutu seperti Larry David. Dia sering marahin penonton dari atas panggung! #persona

…atau sebagai pemerhati yg dingin seperti Jerry Seinfeld. Bajunya rapih, tutur katanya terstruktur jelas, banyak jeda bicara. #persona

…atau sebagai orang yg aneh dan out of place seperti Zach Galifianakis. Rambutnya acak adut, sering bengong di atas panggung. #persona

…atau sebagai seorang yg manic, heboh, hiperaktif, seperti Dane Cook. Sering loncat diatas di atas panggung, teriak2, banyak main suara. #persona

Idealnya, persona berkaitan dengan bit seorang comic.. #persona

..seorang comic yg bitnya ttg kutubuku, kalau personanya juga kekutubukuan, pasti jadi lebih mantep.#persona

..Contoh, gue nonton @shanibudi (coba youtube), bitnya ttg kutubuku, personanya yg ditampilkan di panggung juga kekutubukuan.. #persona

..pembawaan @shanibudi rada canggung, delivery-nya lambat. Bajunya ada lambang superhero di dadanya. Persona: kutubuku. Komplit. #persona

Persona seorang comic bisa lahir dgn sendirinya, terbawa oleh bit yg dia pakai. Atau dipersiapkan dengan matang secara sadar. #persona

Bagi seorg comic yg beruntung, mereka bisa nemu sendiri persona yg unik hanya dgn main dari panggung ke panggung.. #persona

..Namun, ada beberapa comic yg sampai skrg bahkan personanya gak keluar. Ini sayang banget. Dia akan terlihat sama dgn comic2 lain. #persona

Jadi, jika mau jadi comic yg dapat dilihat berbeda, mulai sekarang tentukan persona panggungnya mau seperti apa. #persona

Cari kekuatan dan kelemahan dan ciri pribadi yang kita punya, lalu tentukan persona apa yg mau di-develop. #persona

Contohnya: persona yg males, di panggung matanya sayu, delivery-nya males2an. Atau yg kebapakan, baju rapih, delivery-nya hangat. #persona

Kalau kita sudah menentukan persona, maka gesture, baju, dan delivery harus diperhatikan agar sesuai dgn persona tersebut. #persona

Persona bisa dimulai dari yg dekat dgn diri sendiri. Jangan pake persona rockstar kalau sebenernya suka nangis denger musik mellow. #persona

Semakin unik persona yg kita punya (misal: anak gym naif), akan semakin membedakan kita dengan comic lain. #persona

Cara menajamkan persona hanya dengan banyak2 naik panggung, semakin sering stand up, semakin terbentuk persona kita. #persona

Kalau udah ketemu persona-nya, maksimalkan agar membekas di kepala penonton. Ini akan semakin memisahkan kita dari comic lain. #persona

Persona is what makes you unique as a comic. Remember, you don’t need to be better, you just need to be different. :) #persona #selesai

————————————————————————————————-

[@ernestprakasa]
http://www.ernestprakasa.com

#ComicTips: Demam Panggung

Salah satu pertanyaan yang paling sering gue dapetin dari temen-temen adalah, “Gimana sih caranya supaya nggak demam panggung?”. Mungkin lo juga nanyain hal yang sama. Yuk ah coba kita bahas.
Pertama-tama, coba kita teliti KENAPA orang bisa gugup saat naik ke atas panggung. Untuk segelintir orang, mungkin penyebabnya adalah faktor psikologis yang memang butuh terapi serius. Tapi untuk sebagian besar orang termasuk gue sendiri, sebenernya yang bikin kita gugup itu adalah: FEAR OF THE UNKNOWN. Rasa takut terhadap kemungkinan-kemungkinan buruk yang MUNGKIN terjadi. Padahal itu tuh baru mungkin lho, belum tentu juga kejadian. Tapi memang, seberapa senior pun seorang comic, panggung adalah sebuah tempat yang ajaib. Selalu ada beragam kekhawatiran yang mampir, misalnya:

- “Aduh gue nyiapin materi agak berat nih hari ini, pada ngerti ga ya?”
- “Waktu terakhir gue stand-up disini, mati lampu! Semoga ngga kejadian lagi”
- “Daritadi comic-comic yang lain udah pada kill semua. Penonton udah cape blom ya?”

Dan lain sebagainya, numpuk jadi satu.

Gugup adalah akumulasi kekhawatiran.
Semakin banyak hal-hal yang kita khawatirkan, kegugupan akan semakin melanda. Sebaliknya, semakin sedikit kita khawatir, semakin santai. Memang, di atas panggung, apapun bisa terjadi. Things don’t always go according to plan. Tapi kita bisa membuat diri kita menjadi lebih tenang, yakni dengan cara meminimalisir resiko. Ingat hal ini:
When you’re on stage, you can’t control everything that’s going on. But there are things you CAN, and MUST control.

Ini adalah langkah pertama untuk mengatasi demam panggung. Kita perlu sadar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, dan ada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Untuk hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, ya pasrah saja. Apakah kita bisa mengendalikan respon penonton? Apakah kita bisa mengendalikan cuaca? Apakah kita bisa mengendalikan gangguan listrik? Tentu nggak. Mengkhawatirkan hal-hal kayak gini tuh percuma, karena walaupun itu betul-betul kejadian, kita juga nggak akan sanggup mencegahnya.

Tapi ingat, ada hal-hal yang lebih penting. Dan hal-hal ini BISA kita kendalikan. Dan ini adalah langkah kedua dalam proses mengatasi demam panggung:

Pastiin lo udah betul-betul SIAP untuk tampil.
“Siap” gimana maksudnya? Paling nggak, sebelum naik panggung elo udah:
- Mastiin materi mana aja yang mau dipake
- Ngehafal mati urutan dari materi-materi tersebut
- Ngetes act-out yang mau dipake (kalo memang ada act-out)
- Meriksa kayak apa panggungnya (layout tempat duduk penonton, letak speaker, ada atau nggak monitor di atas panggung, dan lain-lain).
Kesannya simpel banget, tapi faktanya banyak comic yang naik ke panggung tanpa mastiin bahwa mereka udah bisa mengendalikan secara penuh poin-poin diatas. Banyak yang ngegampangin, dan memilih untuk bilang sama diri sendiri, “Ah, gimana ntar aja lah”.

“Gimana ntar ajalah” = Bibit bencana.
Naik ke panggung dengan mindset begini akan beresiko karena kitanya sendiri nggak mantep. Jangan heran kalo nanti pas satu dua bit di awal nggak kemakan penonton, mendadak langsung blank. Percaya deh:

Semakin kita yakin kita udah siap, gugup akan semakin berkurang.

Makanya, sebelum naik panggung, persiapan harus serius. Latian yang giat sampe ngelotok. Supaya makin mantep, tungguin #ComicTips berikutnya yang bakal ngebahas tentang cara latian yang ideal.

[@ernestprakasa]
http://www.ernestprakasa.com

Tentang Kami

Viva La Komtung!

Kami dari @StandUpIndo_KWB, komunitas Stand Up Comedy dari Kota Wisata Batu! :D

Selamat datang di blog *hampir* resmi kami, kami.akan menginformasikan *halah* apapun tentang Stand Up Comedy, teknik, #KulTwit, dan kegiatan kami.

Follow akun twitter kita! :D
@StandUpIndo_KWB


 

Stand Up Comedy KWB © 2012 | Designed by Cheap Hair Accessories

Thanks to: Sovast Extensions Wholesale, Sovast Accessories Wholesale and Sovast Hair